Secara harfiah, kalosara terdiri atas dua kata, yaitu: kalo berarti seutas rotan dengan tiga lilitan yang melingkar; dan sara berarti adat, aturan, simbol hukum. Sebagai benda lingkaran, kalo dibuat dari rotan, dan ada juga yang terbuat dari bahan lainnya, seperti emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan sebagainya (Tarimana, 1993Kalosara yang dilengkapi dengan Sirih dan Pinang
Kalosara terdiri atas 3 bagian, yaitu: Pertama, kalo, berupa lingkaran yang berbahan rotan kecil yang bulat berwarna krem tua yang dipilin, kedua ujung rotan disatukan dalam satu simpul ikatan. Lingkaran memiliki makna sebagai pencerminan jiwa persatuan dan kesatuan dari 3 unsur dalam sebuah kerajaan atau pemerintahan, yaitu: (a) Unsur pimpinan (mokole/raja/penguasa), (b) Unsur pelaksana atau penyelenggara kekuasaan raja/penguasa (pejabat, pemangku adat, perangkat lembaga adat), (c) Unsur kedaulatan rakyat, yang merupakan refleksi dari jiwa falsafah demokrasi Masyarakat Tolaki yang berjiwa Ketuhanan.
Kedua, kain putih sebagai pengalas kalosara, memiliki makna sebagai symbol kejujuran, kesucian, keadilan, da kebenaran.
Ketiga, siwoleuwa, yaitu wadah yang berbentuk segi empat yang terbuat dari anyaman daun onaha (palem rawa) atau daun sorume (angrek hutan), memiliki symbol sebagai pencerminan dari jiwa kerakyatan, keadilan social, dan kesejahteraan umum bagi seluruh warga Masyarakat Tolaki (Suud, 2011).
Ketiga wadah ini jika berdiri sendiri tidak memiliki arti dan fungsi adat, kecuali ketiganya menyatu dalam suatu tatanan dengan struktur sebagai wadah pengalas paling bawah berupa simoleuwa, kemudian dilapisi di atasnya dengan kain putih, dan di atas kedua wadah ini diletakkan kalo.
Kalosara terdiri atas dua jensi, yaitu: (1) Kalosara Sapu Ulu, yaitu Kalosara dengan besar lingkarannya seukuran kepala orang dewasa atau sekitar 40 cm, Kalosara jenis ini digunakan untuk golongan masyarakat menengah ke bawah atau sekarang setingkat camat ke bawah atau sering pula disebut Meula Nebose, (2) Kalosara Sapu Bose, yaitu Kalosara dengan besar lingkarannya seukuran bahu orang dewasa atau sekitar 45 cm, Kalosara jenis ini digunakan untuk golongan masyarakat tertentu, seperti: Raja/Pejabat, orang penting, tokoh adat, dan tokoh masyarakat atau sekarang setingkat Bupati ke atas atau sering pula disebut Tehau Bose (Tamburaka, 2015).
Terdapat dua model ikatan ujung kalo. Model pertama, jika sesudah pertautan pada simpul satunya keluar ujungnya menonjol, sedangkan yang dua ujungnya dari arah kiri tersembunyi, maka model kalo ini diperuntukkan pada kegiatan perkawinan. Adapun makna yang menonjol pada ujung rotan sebagai penghargaan kepada pihak penerima, sedangkan yang tersembunyi bermakna merendahkan diri bagi pihak pemberi.
Model kedua, jika kedua ujung simpul rotan hingga membentuk angka delapan, maka Kalosara jenis ini diperuntukkan khusus kegiatan upacara adat Mosehe, dalam konteks ini seperti penyelesaian sengketa, perselisihan dan lain-lain atau kalosara dalam pengertian yang luas (Tamburaka, 2015).
Selanjutnya untuk membedakan Kalosara dengan Kalo, maka kalo dapat dibedakan berdasarkan bahan pembuatan dan pemanfatannya, maka kalo banyak jenisnya. Pertama, kalo dari rotan ada yang disebut kalosara, yaitu kalo yang dilengkapi dengan wadah siwole tempat meletakkan kalo dan kain putih sebagai pengalas siwole. Kalosarana ini digunakan sebagai alat upacara perkawinan adat, upacara pelantikan raja, upacara penyambutan tamu penting, upacara perdamaian atas suatu sengketa, alat bagi sejumlah tokoh untuk menyampaikan sesuatu saran/pendapat kepada pejabat, alat untuk menyampaikan pesan kepada keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar