Rabu, 05 Mei 2021

KALOSARA

Secara harfiah, kalosara terdiri atas dua kata, yaitu: kalo berarti seutas rotan dengan tiga lilitan yang melingkar; dan sara berarti adat, aturan, simbol hukum. Sebagai benda lingkaran, kalo dibuat dari rotan, dan ada juga yang terbuat dari bahan lainnya, seperti emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan sebagainya (Tarimana, 1993Kalosara yang dilengkapi dengan Sirih dan Pinang
Kalosara terdiri atas 3 bagian, yaitu: Pertama, kalo, berupa lingkaran yang berbahan rotan kecil yang bulat berwarna krem tua yang dipilin, kedua ujung rotan disatukan dalam satu simpul ikatan. Lingkaran memiliki makna sebagai pencerminan jiwa persatuan dan kesatuan dari 3 unsur dalam sebuah kerajaan atau pemerintahan, yaitu: (a) Unsur pimpinan (mokole/raja/penguasa), (b) Unsur pelaksana atau penyelenggara kekuasaan raja/penguasa (pejabat, pemangku adat, perangkat lembaga adat), (c) Unsur kedaulatan rakyat, yang merupakan refleksi dari jiwa falsafah demokrasi Masyarakat Tolaki yang berjiwa Ketuhanan.
Kedua, kain putih sebagai pengalas kalosara, memiliki makna sebagai symbol kejujuran, kesucian, keadilan, da kebenaran.
Ketiga, siwoleuwa, yaitu wadah yang berbentuk segi empat yang terbuat dari anyaman daun onaha (palem rawa) atau daun sorume (angrek hutan), memiliki symbol sebagai pencerminan dari jiwa kerakyatan, keadilan social, dan kesejahteraan umum bagi seluruh warga Masyarakat Tolaki (Suud, 2011).
Ketiga wadah ini jika berdiri sendiri tidak memiliki arti dan fungsi adat, kecuali ketiganya menyatu dalam suatu tatanan dengan struktur sebagai wadah pengalas paling bawah berupa simoleuwa, kemudian dilapisi di atasnya dengan kain putih, dan di atas kedua wadah ini diletakkan kalo.
Kalosara  terdiri atas dua jensi, yaitu: (1) Kalosara Sapu Ulu,  yaitu Kalosara dengan besar lingkarannya seukuran kepala orang dewasa atau sekitar 40 cm, Kalosara jenis ini digunakan untuk golongan masyarakat menengah ke bawah atau sekarang setingkat camat ke bawah atau sering pula disebut Meula Nebose, (2) Kalosara Sapu Bose, yaitu Kalosara dengan besar lingkarannya seukuran bahu orang dewasa atau sekitar 45 cm, Kalosara jenis ini digunakan untuk golongan masyarakat tertentu, seperti: Raja/Pejabat, orang penting, tokoh adat, dan tokoh masyarakat atau sekarang setingkat Bupati ke atas atau sering pula disebut Tehau Bose (Tamburaka, 2015).
Terdapat dua model ikatan ujung kalo. Model pertama, jika sesudah pertautan pada simpul satunya keluar ujungnya menonjol, sedangkan yang dua ujungnya dari arah kiri tersembunyi, maka model kalo ini diperuntukkan pada kegiatan perkawinan. Adapun makna yang menonjol pada ujung rotan sebagai penghargaan kepada pihak penerima, sedangkan yang tersembunyi bermakna merendahkan diri bagi pihak pemberi.
 Model kedua, jika kedua ujung simpul rotan hingga membentuk angka delapan, maka Kalosara jenis ini diperuntukkan khusus kegiatan upacara adat Mosehe,  dalam konteks ini seperti penyelesaian sengketa, perselisihan dan lain-lain atau kalosara dalam pengertian yang luas (Tamburaka, 2015).
Selanjutnya untuk membedakan Kalosara dengan Kalo, maka kalo dapat dibedakan berdasarkan bahan pembuatan dan pemanfatannya, maka kalo banyak jenisnya. Pertama, kalo  dari rotan ada yang disebut kalosara, yaitu kalo yang dilengkapi dengan wadah siwole tempat meletakkan kalo dan kain putih sebagai pengalas siwole. Kalosarana ini digunakan sebagai alat upacara perkawinan adat, upacara pelantikan raja, upacara penyambutan tamu penting, upacara perdamaian atas suatu sengketa, alat bagi sejumlah tokoh untuk menyampaikan sesuatu saran/pendapat kepada pejabat, alat untuk menyampaikan pesan kepada keluarga

Minggu, 18 April 2021

PEMBAGIAN TAKJIL BUKA PUASA YANG DIRANGKAIKAN DENGAN BUKA PUASA BERSAMA DEWAN SARA DAN ANGGOTA ANA NDOLAKI MEPOKO'ASO SULAWESI TENGGARA

Sabtu, 17 April 2021 Masehi/5 Ramadhan 1442 Hijriah, Lembaga Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara menjelang waktu berbuka puasa mengadakan kegiatan pembagian takjil buka puasa kepada masyarakat yang melewati Jln. Poros Pohara-Laosu, Kec. Bondoala, Kab. Konawe

Berdasarkan hasil konfirmasi Via WhatsApp, Awaluddin selaku Sekretaris Jenderal DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara mengatakan: "Kegiatan yang berlangsung hari ini selain fokus pada pembagian takjil buka puasa kepada Warga, juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama Kedua Dewan Sara, Dewan Pendiri, Pengurus Besar, Tamu Undangan dari Lembaga Ta'awuno Tolaki Sultra dan Anggota Ana Ndolaki Mepoko'aso yang hadir berkisar 500 Orang di Sekretariat DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso yang beralamat di Jln. Poros Pohara-Laosu, Kec. Bondoala, Kab. Konawe".

Lebih lanjut, Nawir selaku Ketua Umum melalui Via Telepon mengatakan: "Kegiatan pembagian Takjil Buka Puasa sekaligus Buka Puasa Bersama di Bulan Suci Ramadhan merupakan salah satu momentum yang sayang untuk dilewatkan dalam berlomba-lomba mengumpulkan pahala akhirat dan juga memupuk tali silaturahmi baik itu kepada kedua dewan sara, sesama anggota maupun warga masyarakat".

Sambil menunggu waktu berbuka, terlebih dahulu diisi kata-kata nasihat oleh kedua Dewan Sara Ana Ndolaki Mepoko'aso (Bpk. Ajemain Suruambo, S.SI, M.Sos & Bpk. Adi Yusuf Tamburaka, S.Sos, SH., MH), mereka menitip pesan kepada semua anggota yang hadir bahwa sebagai pemuda adat tolaki  untuk selalu menjaga harkat dan martabat suku tolaki, menjaga tali silaturahmi, mengedepankan toleransi kepada sesama manusia, saling rangkul, saling memaafkan jika bersalah, hormat pada yang tua, sayang pada yang muda, rajin dalam bekerja, taat beribadah dan selalu mengucap syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Memasuki waktu berbuka, semua yang hadir tanpa terkecuali diajak membaca do'a berbuka puasa dan mencicipi hidangan berbuka puasa yang telah disiapkan oleh Tina Ndolaki Mepoko'aso, setelah itu dilanjutkan dengan Shalat Maghrib secara berjamaah yang dipimpin langsung oleh Salah Satu Dewan Sara Bpk. Ajemain Suruambo, S.SI., M.Sos.

Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar sampai akhir acara diadakan pengucapan ikrar Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara yang dipandu langsung oleh Salah Satu Dewan Sara Bpk. Adi Yusuf Tamburaka, S.Sos, SH., MH yang bunyi ikrarnya adalah sebagai berikut: KAMI YANG TERGABUNG DALAM
LEMBAGA ANA NDOLAKI MEPOKO'ASO, MENJUNJUNG TINGGI, HUKUM ADAT TOLAKI, HUKUM AGAMA, DAN HUKUM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.
SALAM MEPOKO'ASO.

Selasa, 09 Maret 2021

Lembaga Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara (ANOA SULTRA) melaksanakan kegiatan "Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus)" yang Ke-III Tahun 2021.

Lembaga Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara (ANOA SULTRA) melaksanakan kegiatan "Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus)" yang Ke-III Tahun 2021.

Kegiatan Diklatsus III Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara di Laika Mbu'u Kec. Meluhu, Kab. Konawe dengan tema "Membentuk Kader Militan, Beradab dan Beradat serta Menjunjung Tinggi Rasa Mepoko'aso"
selama 2 hari, Alhamdulillah berjalan dengan sukses.

Sebelum pelaksanaan Diklatsus III, Panitia terlebih dahulu mengadakan kegiatan Pra Diklatsus yang berlangsung selama 3 hari berturut-turut di Sekretariat DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara, Kec. Bondoala, Kab. Konawe. Pra Diklatsus dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang organisasi pada umumnya. "Mengapa Pra Diklatsus sangat penting untuk calon anggota, sebab perlu diketahui bersama bahwa pelaksanaan Diklatsus III di Meluhu itu sangat singkat waktunya, apalagi mengingat calon anggota Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara yang akan mengikuti kegiatan Diklatsus kebanyakan adalah Karyawan Perusahaan Mega Industri di Morosi olehnya itu perlu mempertimbangkan ketersediaan waktu dari masing-masing calon anggota. Selain itu dalam kegiatan Pra Diklatsus selain materi dasar tentang organisasi, juga diadakan ujian mental dan fisik serta calon anggota diberi gambaran tentang jenis kegiatan yang akan diikuti pada Diklatsus di Meluhu nantinya. (Ucap: Sekretaris Jenderal Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara yang akrab dipanggil FAYYADH)".

Kegiatan Diklatsus III berlangsung selama 2 hari. Dimulai Kamis, 04 s.d Jum'at, 05 Maret 2021. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Diklatsus III (Rustam Mugas Latunggala, S.Pd), Wakil Ketua Panitia (David) dan Sekretaris Panitia (Usman), bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegiatan adalah 103 Orang yang dibagi dalam 5 Regu. Regu 1, 2 dan 3 masing-masing berjumlah 20 Orang, sedangkan Regu 4 berjumlah 22 Orang dan Regu 5 berjumlah 21 Orang.

Satu ciri khas dari pelaksanaan Diklatsus III yaitu adanya Peserta Ayah dan Anak dalam 1 Angkatan (a.n Salam dan Wawan Dermawan) dari Kec. Bondoala, juga adanya peserta Tunawicara/Orang Bisu (a.n Aidi) dari Kec. Morosi. Ini membuktikan bahwa untuk Mepoko'aso (bersatu) dalam menjaga harkat dan martabat serta melestarikan adat dan budaya suku tolaki tidak mengenal tingkatan usia, pangkat ataupun golongan maupun fisik dari seseorang. 

Rustam (Sapaan Akrab) selaku Ketua Panitia dan mewakili seluruh panitia saat penutupan kegiatan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat segala kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan Diklatsus III dan juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kerja sama seluruh panitia dan peserta termasuk saran dan masukan yang sangat berharga dari Dewan Sara, Dewan Pendiri dan Petinggi DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara dalam mensukseskan pelaksanaan kegiatan Diklatsus III dari sejak pembukaan sampai berakhirnya kegiatan.

"Inae Kona Sara Ie Pinesara, Inae Lia Sara Ie Pinekasara"
#Salamu_Aso_Mbewowo'a
#Salamu_Aso_Beli
#Salamu_Aso_Mbenao
#Salamu_Mepoko'aso


Rumbia, 08 Maret 2021
Sekjend. Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara
Fayyadh '27

Minggu, 07 Maret 2021

TAMALAKI, SIAPAKAH PEMILIKMU ?

Secara Etimologi dapat diartikan sebagai berikut yaitu terdiri dari dua suku kata ‘TAMA’ dan ‘LAKI’. TAMA dalam kosa kata bahasa Tolaki artinya adalah Lelaki, Jantan, Perkasa, Kuat, Tangguh, sedangkan kata LAKI dapat diartikan sebagai seorang pemberani. Jadi Tamalaki adalah Seorang Laki – laki yang sangat tangguh dan dapat diandalkan dengan keberanian yang dimilikinya untuk melindungi segenap suku bangsa Tolaki. (04/03/2021)

Secara Terminologi kata TAMALAKI adalah seorang Ksatria dari suku Tolaki yang berfungsi sebagai Pasukan Kerajaan dan Hulubalang perang kerajaan Tolaki.
Jadi istilah ‘Tamalaki’ adalah istilah yang berlaku umum bagi kaum adam dari kalangan masyarakat Tolaki yang siap mengabdikan dirinya kepada kerajaan sekaligus bersedia menjalankan perintah pemimpinnya untuk menjadi Benteng hidup dan alat (pondondo wonua) dalam bertahan maupun menyerang musuh kerajaan.

Tolaki sendiri adalah salah satu suku bangsa terbesar yang mendiami jazirah sulawesi tenggara dimana pada masa lalu pernah memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Mekongga dan Konawe’
Dalam Tatanan masyarakat Tolaki.

Tamalaki adalah salah satu kasta Ksatria yang memiliki keistimewaan tersendiri dimana seseorang yang bergelar Tamalaki memiliki tanggungjawab besar dipundaknya. Gelar Tamalaki dalam sejarahnya akan diberikan pada seorang laki – laki dewasa apabila telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan teruji ketika diterjunkan kedalam arena peperangan. Bila ditinjau dari aspek Historis, Tamalaki adalah gelar yang diberikan kepada seorang laki – laki dewasa apabila di medan perang mampu membunuh musuhnya serta memenggal kepalanya (monga’e) lalu menjadikan tengkorak musuhnya sebagai wadah untuk meminum air. Hal ini sekaligus menjadi penanda bagi seorang bisa dikatakan telah Dewasa dan sempurna sebagai seorang ksatria apabila telah mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan. Tamalaki adalah simbol kekokohan Kerajaan Tolaki dalam mempertahankan eksistensi kerajaan serta menegakkan kedaulatan orang Tolaki.

Secara Filosofis, Tamalaki, sebagai pasukan yang umumnya terdiri dari para lelaki dewasa merupakan simbol yang bermaka kejantanan (Polanggaia), keperwiraan (Kapita), keberanian (moseka), kesetiaan/loyalitas tanpa batas dan penjaga marwah kerajaan/kemokolean Konawe dan Kebokeoan Mekongga. Hal ini dapat dilihat dari beberapa simbol yang digunakan, seperti ikat kepala warna merah (Kasaeda) dan dilengkapi dengan senjata, taawu. Dari sisi ideologis, Tamalaki merupakan suatu gelar yang istimewa dalam mengabdikan dirinya secara totalitas terhadap pemimpinnya serta mampu melindungi adat yang disimbolkan dengan ‘KALO SARA’.

Dalam Jiwa para Tamalaki selalu memegang Prinsip sesuai semboyannya “Labirai mate ano amba metuka bunggu”. Jika diterjemahkan bermakna “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus mundur walau hanya sejengkal”.

“Sepak Terjang Tamalaki”

Selain sebagai gelar umum bagi setiap laki – laki dalam suku Tolaki, seorang Tamalaki juga bisa mendapatkan gelar gelar istimewa lainnya yang tentu saja menggambarkan level ke-Tamalakiannya yang tinggi. Di Konawe, adalah seorang ‘Wutu’ahu’ atau yang di gelar dengan “Anakia Ndamalaki” (era Kemokolean Wekoila) yang sangat tersohor dimasanya sebagai panglima perang kerajaan Konawe yang pertama – tama menjadi cikal bakal penamaan gelar Tamalaki di tubuh masyarakat Tolaki (Adjemain Soroambo, M.Sos).

Anakia Ndamalaki juga mendapat julukan lain yaitu ‘Pakandeate’ atau Pakandre ati’ dimana gelar tersebut diberikan oleh bangsawan ditanah bugis atas kemampuannya dimedan perang ketika menghabisi musuhnya dengan cara memakan organ tubuh berupa Hati.

Makam Anakia Ndamalaki saat ini telah menjadi salah satu situs sejarah di konawe, hal ini ditandai dengan dijadikannya sebagai Cagar Budaya Nasional makam Pakande’ate yang terletak di Lerehoma Kabupaten Konawe. Di Mekongga, adalah seorang raja Mekongga yang bergelar “Sangia Nibandera” dikisahkan pernah memimpin pasukan Tamalaki terbaiknya dari Mekongga untuk membantu kedatuan Luwu mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari serangan musuh yang ingin menaklukan kedatuan Luwu sekitar abad ke 17 (Nur Saenab Lowa).

Makam Sangia Nibandera pun saat ini telah masuk kedalam cagar budaya nasional.
Berbagai Kisah para Tamalaki Wonua terus berlanjut sejak dulu hingga di era moderen kini, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pemuda – pemuda Tolaki yang saat ini tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) mencoba bangkit dari tidur panjangnya dengan kesadaran penuh untuk menjaga eksistensi adat dan budaya Tolaki.

“Ritual Tamalaki”

Dalam Melakukan eksvansi para Tamalaki sebelum turun ke medan perang akan terlebih dahulu melakukan berbagai persiapan, tak terkecuali dengan sejumlah ritual sakral yang menjadi kegiatan Wajib para pasukan Tamalaki. Pasukan Tamalaki akan memilih waktu yang paling tepat dalam melepaskan pasukan menuju wilayah yang akan dijadikan arena perang. Dalam keyakinan Tamalaki, waktu yang tepat adalah angka Satu, sembilan, tujuh belas dan dua puluh lima atau biasa disimbolkan dengan ‘Matahari’ (Prof. A. Tarimana) Diantara ritual itu adalah melakukan Tarian ‘Umo’ara’ sebagai pengantar para pasukan Tamalaki saat hendak menuju medan perang.

Selanjutnya pasukan Tamalaki ini akan dipimpin oleh seorang panglima yang bergelar ‘Tadu’. Seorang Tadu bersama kelompok kecilnya yang terpisah dari pasukan utama akan memandu para Tamalaki dari suatu tempat dengan cara menyalakan obor yang terbuat dari kayu damar sambil melafalkan sejumlah mantra guna melundungi para Tamalaki yang sedang berperang (Albert C Kruyf).

Tamalaki sendiri memiliki keyakinan yang tinggi terhadap “Sangia Mbonga’e atau dewa perang yang diyakini selalu siap melindungi mereka di medan perang, sehingga dengan moral dan semangat tinggi mereka maju ke medan perang.

Tamalaki sebagai Pasukan penjaga adat.
Selain dari fungsinya sebagai Hulubalang Perang kerajaan, Tamalaki juga berfungsi dalam menjaga seluruh aturan adat dan aturan sosial lainnya yang berlaku dalam internal masyarakat Tolaki. Tamalaki juga memiliki tugas yang tidak kalah beratnya dalam menjaga sejumlah aturan Adat yang telah menjadi aturan baku yang berlaku pada masyarakat agar tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan kata lain Tamalaki diberi tugas oleh Kerajaan untuk terlibat aktif mengontrol jalannya pemerintahan demi tegaknya nilai – nilai “Kalo Sara” dari berbagai upaya pembangkangan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Senjata KhasTamalaki”

Orang – orang Luwu pernah menggambarkan keberanian para Tamalaki di Mekongga dengan ungkapan.”Sessana Bombang Tawana Sinangke” yang artinya adalah Sisanya Ombak dilautan maka bagiannya adalah parang sinagke / Taawu. Dalam bahasa tolaki yaitu “Toreano Laewo Tadono Taawu”.

Adapun beberapa senjata Khas Tamalaki serta perlengkapannya berupa parang (Taawu), Tombak (Karada), Tameng (Kiniya) dan lainnya. Senjata – senjata yang disebutkan diatas dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang diambil dari sekitar danau matana lalu ditempa oleh pengrajin besi (Mbusopu) dari Sanggona.

Pegunungan Verbeek terletak di wilayah Sulawesi Tenggara, Selatan dan Tengah yang pernah aktif ribuan tahun lalu. Setelah eruvsi maka verbeek mengeluarkan isi perutnya yang menyebar ke Mekongga dan Konawe. Kandungan material yang terdiri dari biji besi yang kaya dan berkualitas nikel dan baja inilah yang kemudian menjadi bahan baku pembuatan senjata Tamalaki (AN Lapae).

Seiring dengan masuknya Islam di bumi Anoa Sulawesi Tenggara beberapa abad silam, maka tradisi – tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam mulai ditinggalkan oleh orang Tolaki secara perlahan hingga akhirnya tidak lagi ditemukan kebiasaan memenggal kepala tersebut.

Kiprah Tamalaki dari masa ke masa terus mewarnai perjalanan suku bangsa Tolaki sebagai suatu entitas. Tamalaki selalu mengambil peran penting dalam melindungi suku bangsa Tolaki dari berbagai pihak yang ingin merongrong kedaulatan Tolaki. Di era perlawanan penjajah asing hingga menjelang kemerdekaan NKRI, para Tamalaki melakukan perlawanan dalam mengusir penjajah dari Nusantara. Baik di Mekongga maupun di Konawe, para Tamalaki tampil kedepan menjadi benteng bagi masyarakat Tolaki. Salah satunya adalah kisah heroik para Tamalaki bersama rakyat dalam menghadang konvoi NICA BELANDA pada bulan November 1945 di Kolaka.

Demikian halnya ketika negara ini baru saja merdeka, ketika terjadi pemberontakan DI/TII di bumi Anoa maka para Tamalaki pulalah dalam hal ini “Pasukan Djihad Konawe” (PDK) yang menjadi tameng bagi masyarakat Tolaki untuk melawan penindasan yang dilakukan para gerombolan kala itu. Saat ini ita dapat melihat banyaknya organisasi kepemudaan Tolaki yang muncul dengan konsep menjaga penegakan hukum adat di tanah leluhurnya. Salah satunya adalah “Banderano Tolaki” yang cukup aktif dalam menjaga dan mengawal penegakan hukum adat di wilayah hukum adat Tolaki.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin menyampaikan beberapa hal terkait penggunaan istilah ‘Tamalaki’ yang belakangan ini diduga terjadi distorsi pemahaman sesama pemuda Tolaki sehingga berujung saling klaim tentang siapa yang paling berhak menggunakan istilah TAMALAKI yaitu :

Bahwa ‘Tamalaki’ adalah istilah universal yang boleh digunakan oleh siapa saja pemuda Tolaki yang memiliki semangat dalam menjaga dan melestarikan nilai nilai “Kalo Sara”.
Istilah Tamalaki tidak boleh diklaim sebagai milik seseorang atau satu kelompok Tolaki saja karena dalam sejarahnya istilah ini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan pernah digunakan di dua kerajaan besar milik suku Tolaki.
Tamalaki adalah gelar bagi para kesatria Tolaki dimasa lalu yang selalu memegang teguh falsafah “Kalo Sara”.
Tamalaki merupakan benteng kokoh bagi suku bangsa Tolaki yang selalu berdiri terdepan dalam membela hak – hak orang Tolaki
Karena keistimewaannya maka hendaknya siapa saja yang menggunakannya agar bisa menjaga sikap dan perilakunya sebagai seorang ksatria sejati.
Sebagai warisan Leluhur Tolaki dalam konteks kearifan lokal (local wisdom) maka Tamalaki telah bersemayam dalam jiwa para pemuda Tolaki saat ini dalam upayanya menjaga dan melindungi Adat dan Kebudayaan Tolaki.
Semoga dengan hadirnya Tulisan ini dapat mengedukasi segenerasi Tolaki mengenai ‘TAMALAKI’.

Salamu Mepokoaso
“inae Kona sara iee pinesara, inae lia sara iee pinekasara”.

Sabtu, 06 Maret 2021

Sejarah singkat P.D.K (Pasukan Djiehad Konawe)

Sejarah singkat P.D.K (Pasukan Djiehad Konawe)

P.D.K (Pasukan Djihad Konawe)

Sekitar tahun 1950 atau awal tahun 1951 gejolak kekacauan di sulawesi tenggara sudah mulai tampak, bermula di kolaka, kahar muzakar dengan pasukannya memsuki sulawesi tenggara dan menguasai wilayah kendari terus ke arah selatan di sekitar boepinang yang di ikuti perampokan,penculikan dan pembunuhan mewarnai masa itu.

Sejalan dengan meningkatnya aktivitas gerilyawan DI/TII di sulawesi tenggara, maka kewedanan kendari di tempatkan satu batalyon infantri secara berturut-turut adalah batalyon 704 Ko DPSST, kemudian batalyon 512 dari brawijaya, batalyon 718 Ko DPSST, selanjutnya batalyon 718 di tarik dan di ganti mobrig dari jawa timur (rivai nur, 1999: 90)
kehadiran batalyon 704 sebagai perintis operasi militer di kewedanan kendari tdk sprti yang di harapkan sebagai pelindung rakyat, sebaliknya kehadiran batalyon 704 di kendari rakyat mengalami penyiksaan, gadis gadis di ambil secara paksa. Tindakan yang sama di lanjutkan oleh pasukan batalyon 512 brawijaya dan kejahatan itu trus berlangsung hingga datangnya batalyon 718.

Hadirnya batalyon 718 di wilayah kendari menggantikan batalyon 512, rakyat menyambut dengan gembira, mereka menaruh harapan perlindungan dari gangguan dan teror DI/TII pada batalyon ini. Awal mula kehadiran batalyon 718 rakyat dengan sukarela membantu keperluan dan tugas mereka, dalam beberapa hal seperti kebutuhan pangan, rakyat dengan sukarela membantu membrikan kebutuhan-kebutuhan itu, bahkan anggota porsonil batalyon 718 sering di undang oleh penduduk untuk di jamu makanan dan di suguhkan minuman. Pendirian pos pos penjagaan rakyat dengan sukarela datang membantu.

Kerjasama antara tentara dan rakyat hanya berlangsung pada masa awal kedatangan mereka, namun karena tingkah laku para anggota batalyon yang kian hari smakin buruk mengakibatkan rakyat tidak mau lagi untuk bekerjasama dengan tentara, bahkan rakyat menjadi menutup diri. Harapan rakyat untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan dari batalyon ini tdk terpenuhi, bahkan penderitaan yg selama ini mereka rasakan akibat dari tekanan gangguan DI/TII menjadi lebih parah. Akibatx, brdampak pada kehidupan rakyat, DI/TII menjadi semakin gencar melakukan teror, perampokan, penculikan dan pembunuhan, sebagai jawaban dan bentuk perlawanan mereka atas pengiriman pasukan operasi untuk menumpas habis gerilyawan di sulawesi tenggara.

Kerusakan struktur pertanian atau perkebunan rakyat akibat pembakaran dan pengrusakan oleh DI/TII di tambah lagi pemerasan dan perampasan harta milik rakyat merupakn salah satu sebab utama timbulnya kemiskinan dan kelaparan di wilayah kendari terutama di desa-desa. Tingginya tingkat intensitas perampokan, pemerkosaan dan perampasan ternak yang sering terjadi di wilayah kendari mengakibatkan lumpuhnya sistem pemerintahan, yang ada hanya ketakutan di kalangan rakyat. Di wilayah kendari bagian selatan seperti lambuya, motaha, tinanggea, landono pada masa itu prnah di landa kelaparan total akibat perampasan dan perampokan oleh DI/TII di tambah batalyon 718, sehingga orang makan apa saja yang bisa di makan, tidak hanya itu struktur sosial budaya juga menjadi porak poranda, adat istiadat daerah kendari tidak di hormati lagi bahkan tidak di hiraukan lagi keberadaannya (lambauta, wawancara 12 april 2001).
Dampak dari kekejaman tindakan batalyon 718 sudah mulai di rasakan sejak tahun 1955 dngn mulai beraninya rakyat melawan demi keluarga dan hartanya yang hal demikian oleh batalyon 718 di tafsirkan sebagai perlawanan. Kendati pun berbagai prlawanan individu sering kali terjadi sebagai protes tindakan-tindakan batalyon 718, akan tetapi tidak menyurutkan aktivitas mereka. Perampasan milik rakyat di barengi tindakan kekerasan malah terus meningkat.

Pada tahun 1953, Alim Taufik berangkat ke kendari setelah bergerilya dengan pasukan hasan basri di kalimantan barat balikpapan karena mendengar berita bahwa di sulawesi tenggara khususnya kendari rakyat mengalami penyiksaan. Setelah Alim Taufik kembali, ia menyaksikan sendiri kebenaran berita itu. Alim Taufik juga merasakan ketidak adilan, terutama pada orang orang tolaki sebagai penduduk asli pribumi.

Untuk melawan ketidak adilan dan tindakan semena-mena, Alim Taufik menghubungi tokoh tokoh bangswan dan pemuda antara lain, Lambauta dari tokoh pemuda, Abdul Sama dari tokoh bangsawan, dan Nurdin Rasiddin dari tokoh pemuda. Mereka bertemu di bekas gedung Zeending School (bioskop lama kota).
Pada bulan maret 1955, mereka membahas tentang keadaan dan situasi kendari yang semakin kacau. Idrus Taufik kemudian mengusulkan membntuk suatu organisasi kelasyakaran untuk melawan ketidak adilan dan tindakan semena-mena yang menimpa rakyat. Usulan ini di terima oleh ke empat tokoh tersebut. Dalam pertemuan penting ini mereka sepakat mengundang tokoh tokoh lainnya yang berada di distrik-distrik pada wilayah kewedanan kendari dalam rangka musyawarah pembentukan organisasi dengan tempat di distrik konda pada tanggal 5 mei 1955.
Hasilnya hadir beberapa tokoh-tokoh yang diundang, antara lain:

1. Idrus taufik
2. MR. Pabelu
3. Mandaha/H. Umar (kepala distrik laeja) mewakili klompok tua
4. Tambi achmad zulkarnaen (mewakili pemuda lasolo)
5. Kasim jufri (mewakili pemuda lambuya)
6. Lambauta dari tokoh pemuda konda
7. Samsuddin dari tokoh pemuda kolaka
8. Sikala pidani dari bangsawan
9. Nurdin rosyidin dari pemuda
10. Abdul husain tamburaka
11. Toka arifin dari pegawai negeri (guru)
12. Hamid hasan

dalam pertemuan ini di sepakati membentuk kelasyakaran tetapi mereka kemudian terbentuk pada penamaan organisasi itu. Idrus Taufik tampil mengusulkan nama organisasi itu adalah "Pasukan Djihad Konawe" di singkat PDK dengan menjelaskan arti dan maksud dari pemberian nama PDK yang terdiri dari 3 suku kata, "Pasukan,Djihad,Konawe".

Pertama, ia memilih suku kata "Pasukan" dengan maksud bahwa pasukan adalah organisasi yang dapat memberi dorongan moril tinggi pada setiap personilnya, dan sifat organisasi ini bergerak, menyerupai tentara yaitu bergerak mengadakan perlawanan fisik.
Kedua, ia memlih suku kata "Djihad" dengan mksud bahwa kata djihad adalah berarti berjuang untuk menegakkan kebenaran, dan mencegah kemungkaran, di dalamnya ada kewajiban dan motivasi mati syahid, ini di ilhami dari ceramah-ceramah agama yang di dengarnya semasa masih di makassar..
Ketiga, ia memlih suku kata "Konawe" dengan alasan konawe adalah nama Kerajaan Tolaki yang pernah berjaya sehingga nama konawe memiliki pengaruh sosial yakni pemersatu orang Tolaki dan persaudaraan serta persamaan, yakni dengan luwu, makassar, bone, ternate dan bungku.

Setelah Alim Taufik mengemukakan nama organisasi ini dengan di sertai alasan-alasan maka ke dua belas anggota menyetujui nama organisasi ini yaitu "Pasukan Djihad Konawe". Selanjutnya ke 12 tokoh ini di tambah Alim Taufik mengikrarkan janji untuk bersatu padu dalam melawan keserakahan,ketidak adilan dan kekuasaan..

#Sejarah_Tolaki
#Sumber_Cerita_Anandolaki

Jumat, 18 September 2020

SUKU TOLAKI ADALAH SUKU TERBESAR DI DARATAN PULAU SULAWESI TENGGARA

Suku Tolaki merupakan suku terbesar yang mendiami daratan pulau Sulawesi bagian Tenggara.
Suku Tolaki merupakan suku asli daerah Kabupaten Kendari dan Kolaka.
Keberadaan Etnis Tolaki tersebar di 7 kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Tenggara seperti :
Kota Kendari
Kabupaten Konawe
Konawe Selatan
Konawe Utara
Kolaka
Kolaka Utara
Kolaka Timur
Masyarakat Suku Tolaki sejak zaman prasejarah diketahui telah ada dan memiliki jejak peradaban
Bukti ini diperkuat setelah berbagai peninggalan arkeologi di ketemukan pada beberapa gua di wilayah Konawe bagian utara seperti :
Asera
Lasolo
Wiwirano
Langgikima
Lamonae
Gua gua tersebut diantaranya
Gua Tanggalasi
gua Tengkorak I
gua Tengkorak II
gua Anawai Ngguluri
gua Wawosabano
gua Tenggere
gua Kelelawar
Dan beberapa gua prasejarah lainnya yang belum teridentifikasi.
Peradaban Suku Tolaki di wilayah Konawe diperkirakan telah berlangsung sejak 5000 tahun Sebelum Masehi.
Secara linguistik Bahasa Tolaki digolongkan kedalam rumpun bahasa Austronesia
Dan secara Antropologi manusia Tolaki menjadi bagian dari Ras Mongoloid, yang datang melalui jalur migrasi Asia Timur menuju daerah Sulawesi, hingga akhirnya masuk ke daratan Sulawesi Tenggara.
Sebelum adanya kerajaan Konawe , beberapa kerajaan kecil dipercaya telah terlebih dahulu ada, diantaranya :
Kerajaan Padangguni yang dipimpin oleh raja mokole Bunduwula, Kerajaan Padangguni memiliki kekuasaan atas wilayah Abuki
Kerajaan Besulutu di Besulutu yang dipimpin oleh Rajanya yang bernama Mombeeti
kerajaan Wawolesea di Toreo yang dipimpin oleh Raja Wasangga.
Jauh sebelum kerajaan Konawe berdiri, Di daerah Konawe telah hadir beberapa kerajaan kecil, dan kerajaan kerajaan inilah yang dikemudian hari menjadi satu membentuk kerajaan Konawe.
Hal ini juga terjadi di beberapa wilayah seperti kerajaan Wolio, Kerajaan wolio dibentuk oleh beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Kamaru, kerajaan Tobe-Tobe, dan beberapa kerajaan kecil lainnya yang ada diwilayah tersebut.
Beberapa kerajaan kecil yang tercatat pernah ada di Wilayah Konawe
Kerajaan Padangguni
Kerajaan Padangguni , Kerajaan ini berkuasa selama 12 generasi. Raja pertama kerajaan Padangguni bernama Tolahianga yang bergelar Bundu Wula atau juga Tanggolowuta akan tetapi sering juga di Gelari Sebagai Sangia Ndudu Ipadangguni.
Kerajaan Wawolesea
Kerajaan Wawolesea yang terletak di sepanjang pesisir pantai timur bagian Tenggara pulau Sulawesi yang sekarang dikenal dengan nama daerah Lasolo.
Kerajaan Wawolesea merupakan keturunan Raja yang berasal dari wilayah Kediri Pulau Jawa.
Kerajaan Wawolesea tidak berkembang dan maju seperti kerajaan lainnya, Hal ini disebabkan perang yang terus menerus di wilayah Kerajaan Banggai, Sulawesi Tengah. Hal lain yang menjadi sebab terhambatnya pembangunan diwilayah kerajaan ini di percaya oleh penduduk setempat karena Kerajaan Wawolesea terkena kutukan akibat ulah sang Raja yang telah menjadikan putrinya sendiri sebagai permasurinya.
Petaka inilah yang membuat penduduk wilayah tersebut hijrah dan berlayar menuju beberapa wilayah lainnya, seperti wilayah disemenanjung utara pulau Buton serta pulau Wawonii.
Kerajaan Wawolesea memiliki seorang raja yang bernama Rundu Langi, Raja Rundu langi tidak memiliki pewaris tahta, Hingga kerajaan Wawolesea menjadi satu dengan kerajaan Konawe.
Kerajaan Besulutu.
Kerajaan Besulutu, Kerajaan ini dipimpin oleh Rajanya yang bernama Mokole Mombeeno, Umur kerajaan besulutu sendiri berlangsung sangat singkat hal ini disebabkan kegemaran sang raja yang selalu ingin berperang dengan beberapa kerajaan kecil disekitarnya.
Peperangan yang dipicu dari kesenangan sang raja inilah yang kemudian membuat rakyatnya terus menerus berkurang, Hingga akhirnya Raja Mokole Mombeeno ikut terbunuh dalam medan pertempuran tanpa meninggalkan generasi penerus yang mampu memimpin kerajaan Besulutu tersebut.
Kerajaan Watu Mendonga
Kerajaan Watumendonga, adalah kerajaan yang mendiami hulu sungai Konawe Eha tepatnya di wilayah Tonga Una.
Kerajaan Watumendonga adalah kerajaan kecil yang kekuasaannya tunduk dibawah pemerintahan kerajaan Konawe. Namun dibelakang hari menjadi bagian dari kerajaan Mekongga. Hal ini dikarenakan daerah Konawe bagian Utara seperti Wilayah Kondeeha, Tawanga dan Sanggona menjadi bagian dari warisan yang diberikan kepada Wunggabae anak dari Buburanda Sabandara Latoma yang bernama Buburanda atas pernikahannya dengan Bokeo Teporambe anak dari Bokeo Lombo-Lombo. Kerajaan Watumendonga terakhir kali dipimpin oleh Mokole Lapanggili.
Dari yang tersampai oleh para penutur silsilah para raja, sisa peninggalan dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut masih dapat di temukan, baik itu peninggalan dalam bentuk arkeologi ataupun juga etnografi, seperti halnya reruntuhan istana Raja Wawolesea yang ada di wilayah Toreo.
Dari beberapa sumber sejarah, Keruntuhan kerajaan-kerajaan kecil ini disebabkan seringnya perang saudara terjadi antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya semmisal perang yang terjadi antara Kerajaan Padangguni dengan Kerajaan Besulutu.
Ekspansi dari kerajaan lain yang datang dari luar wilayah Konawe seperti Bungku dan Ternate, Munculnya Penguasa baru seperti kerajaan Konawe yang terdiri dari Penguasa Tiga kerajaan serta peperangan yang melibatkan kerajaan Wawolesea serta kerajaan Banggai juga disebut sebagai penyebab utama berakhirnya kekuasaan beberapa kerajaan kecil diwilayah konawe
Keturunan Mokole Padangguni adalah seorang pemimpin yang selalu berusaha untuk mengintegrasikankan banyak kelompok di lingkungan masyarakat Tolaki yang menetap dan tersebar di seluruh wilayah kerajaan Padangguni.
Nama Mokole Padangguni yang disebut adalah Toramandalangi yang digelari sebagai Totongano Wonua.
Dalam rangka menyatukan kerajaan yang ada di sekitar wilayah konawe Totongano Wonua ini kemudian memindahkan pusat kerajaan Padangguni ke Wilayah Unaaha.
Unaaha saat itu dipenuhi oleh orang yang berdatangan dari wilayah Tulambantu.
Mereka meninggalkan wilayah Tulambantu, dan meilih bermukim di Unaaha dikarenakan adanya wabah penyakit.
Kedatangan mereka di pimpin oleh seorang yang bernama Puteo.
di Inolobu Nggadue Unaaha inilah Totongano Wonua bertemu denan seorang wanita yang berada di Lalobalongga yang bernama Nanggalamaha.
Setelah Toramandalangi memindahkan pusat pemerintahannya .
seorang putri dengan dikawal 40 orang bersenjata berbaju sirat tiba di unaaha.
Kabar tentang kedatangan putri tersebut kemudian tersiar di kalangan masyarakat Unaaha.
Penyambutan terhadap putri tersebut kemudia dilakukan.
Masyarakat Unaaha pada masa itu menyebut sang putri dengan nama Sangia Ndudu yang berarti Dewa yang turun, karena masyarakat Tolaki yang berada diunaaha sama sekali tidak mengetahui siapa dan darimana sang putri itu berasal.
Kedatangan sang putri yang dikawal 40 orang itu kemudian akhirnya disampaikan kepada Totongano Wonua, Totongano Wonua kemudian datang menemui sang Putri.
Dari pertemuan Totongano Wonua dan putri inilah Nama sang putri berubah menjadi Wekoila, Hal ini Dikarenakan penyakit kulit yang diderita oleh sang putri.
Kata Wekoila menurut para penutur silsilah para raja terdiri dari dua kata dimana We adalah sebutan bagi bangsawan perempuan,dan koila artinya mengkilat.
Wekoila atau juga Watandiyate inilah yang kemudian menikah dengan Ramandalangi putra dari tongano wonua Toramandalangi
Dimana setelahnya wekoila lalu dilantik sebagai raja/ratu orang Tolaki dan oleh wekoila inilah nama kerajaan padangguni kemudian berganti menjadi kekerajaan Konawe.
Pusat Kerajaan Konawe yang berawal di wilayah Napo olo oloho, kemudian berpindah dan berpusat di Inolobunggadue Unaaha.
Hal ini terjadi pada awal abad ke 10 masehi.
Catatan :
Menurut dua orang bersaudara Albert Cristian Kruyt , dan J. Kruyt, serta F. Treferrs bahwa hal ini juga terjadi di Kerajaan Mekongga Kolaka dimana Wekoila dan Larumbalangi diceritakan sebagai dua orang bersaudara. dimana Wekoila adalah kaka sedangkan Larumbalangi adalah adik. dari Kedua bersaudara inilah raja-raja Konawe, dan Mekongga kemudian lahir
Toramalangi ini di sebut juga dalam kitab sastra Lagaligo sebagai Remangrilangi.
Wekoila adalah saudara Larumbalangi yang bergelar Sangia Aha. Wekoila ini bernama Wetendriabeng, yang oleh masyarakat Tolaki lebih dikenal dengan nama Walandiate atau juga Watandiabe
Dikarenakan cara bertutur orang Tolaki dan orang Bugis tidaklah sama dalam hal pengucapan, maka Wetendriabe perlahan berubah menjadi Watandiyate.
****
Suku Tolaki yang menjadi bahasan utama Artikel ini, Secara geografis masyarakatnya mendiami bagian tenggara daratan Sulawesi dan didalam peta indonesia wilayah ini
disebut Provinsi Sulawesi tenggara.
Secara Garis besar, Masyarakat Suku Tolaki menjadi Etnis terbesar pada beberapa daerah kabupaten dan Kota disulawesi tenggara diantaranya Kabupaten Konawe, Kota
Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, dan Kabupaten Kolaka Timur. kabupaten kabupaten tersebut
kesemuanya berada di daerah daratan Sulawesi bagian Tenggara.
Suku Tolaki dapat dikatakan salah satu suku terbesar yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara di samping suku suku lainnya seperti Suku Buton, Suku Muna Suku Mornene dan lainnya.
Masyarakat Suku Tolaki tersebar di Kab. Kendari (Asera, Lasolo, Wawotobi, Abuki dan Tinanggea) dan Kab. Kolaka (Mowewe, Rate-rate dan Lambuya)
Suku Tolaki Umumnya menafkahi hidup dengan cara bertani, Dan dalam bermasyarakat Suku tolaki terkenal memiliki rasa persaudaraan serta semangat gotong royong yang
tinggi.
Asal KataTolaki
Dari berbagai Sumber, Kata Tolaki memiliki arti dan sejarah dimana kata Tolaki diambil dari dua kata yaitu :
TO yang berarti orang atau manusia sedangkan kata LAKI berarti laki-laki, merujuk dari Dua Kata tersebut maka kata 'TOLAKI' dapat di artikan sebagai manusia yang
memiliki sifat kejantanan yang tinggi, Ksatria, berani serta menjunjung tinggi nilai nilai kehormatan diri (harga diri).
Orang Tolaki pada awal mulanya menyebut dirinya sebagai Tolohianga (orang dari langit).
Pengertian kata “langit” disini tak lain adalah “kerajaan langit” seperti yang ada pada budaya China. Hal ini Erat kaitannya dengan penggunaan kata “hiu” yang dalam
bahasa China Kata ini berarti “langit” sedangkan kata “heo” (dalam bahasa Tolaki) dapat pula berarti “ikut pergi ke langit”.
Kalosara dalam Suku Tolaki

Dalam hal Suku adat dan budaya, dapat dipastikan hampir semua manusia dan masyarakat memilikinya, Hanya saja Lingkungan, alam dan manusianya masing masing berbeda
hingga faktor inilahnya yang kemudian ikut mempengaruhi serta melahirkan Keberagaman budaya itu sendiri, seperti yang ada di bumi Nusantara indonesia.
Suku Tolaki yang mendiami daratan Sulawesi Tenggara, dalam adat serta budayanya mmiliki simbol adat yaitu “Kalo.‘ Dalam tradisi masyarakat Tolaki disebut Kalosara.
Simbol Kalo yang terbuat dari bahan rotan ini dibentuk secara melingkar, Menjadi simbol persatuan dan kesatuan Suku Tolaki. Masyarakat Mekongga dan Tolaki sangat paham makna kalo, untuk itu Makna Kalo selalu digunakan untuk menyelesaikan masalah masalah sosial yang terkadang timbul ditengah masyarakat.
Makna dan arti Kalo sara
Kalo (Lingkaran)
Secara harfiah, Kalo adalah simbol dari sebuah benda yang berbentuk melingkar (lingkaran). Sebagai benda yang berbentuk lingkaran, Kalo terbuat dari bahan rotan, Namun
dibeberapa tempat Kalo dapat ditemui terbuat dari bahan lainnya, seperti emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan sebagainya.
Konsep dari Simbol Kalo dalam kebudayaan suku Tolaki memiliki makna dan ruang lingkup yang sangat luas. Secara garis besarKalo meliputi 'o sara' (adat istiadat),
terkhusus 'sara owoseno tolaki' atau sara mbu’uno tolaki, yaitu adat pokok, yang menjadi sumber dari segala yang terkait adat-istiadat suku Tolaki yang diterapkan
dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya.
Kalo adalah adat pokok yang dapat digolongkan ke dalam segala unsur adat pokok yang disebut :
1. Sara wonua : adat pokok dalam unsur pemerintahan;
2. Sara mbedulu : adat pokok dalam hubungan kekerabatan, kekeluargaan serta persatuan pada umumnya;
3. Sara mbe’ombu : adat pokok dalam hal aktivitas agama serta kepercayaan;
4. Sara mandarahia : adat pokok dalam pekerjaan yang terkait dengan keahlian serta keterampilan;
5. Sara monda’u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti : adat pokok dalam kegiatan brtani,berladang, berkebun, beternak, berburu, ataupun menangkap ikan.
Bagi Masyarakat Suku Tolaki , Kalo adalah pedoman yang besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat.
Tingkat kalo pada nilai nilai budaya adalah sistem norma adat yang sangat berfungsi dalam hal mewujudkan ide ide yang mengkonsepsikan hal utama yang paling bernilai
dalam kehidupan masyarakat tolaki.
Pada tingkatan aturan khusus,kalo menjadi bagian yang mengatur segala aktivitas yang sangat jelas dan memiliki batas batas serta ruang lingkup dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dalam konsep Kalo yang mengatur aktivitas tersebut dikenal dengan istilah Meraou, yaitu aturan khusus yang mengatur setiap individu dalam bertutur serta berbahasa yang mengedepankan sopan santun (tata krama)
Atora, yaitu aturan khusus dalam komunikasi sosial.
Simbol Kalo secara antropologis adalah bagian dari kebudayaan yang menjadi unsur utama dalam kebudayaan masyarakat Tolaki, sehingga mendominasi segala aktivitas atau
pranata lainnya dalam kehidupan masyarakat Tolaki.
Fokus kebudayaan dari keberadaan masyarakat disebut
cultural interest atau social interest, yakni suatu kompleks unsuryang ada pada kebudayaan yang terlihat sangat digemari oleh warga atau masyarakatnya, Sehingga terlihat seakan ikut mendominasi seluruh kehidupan masyarakat terkait.
Simbol kalo dan Jenis jenisnya
Berdasarkan bahan utama pembuatannya serta manfaatnya, maka jenis-jenis Kalo terbagi beberapa jenis dimana masing-masing jenis kalo tersebut memiliki maksud serta arti
yang berbeda.
Berikut jenis kalo, bahan, manfaat serta artinya :
Kalo yang terbuat dengan menggunakan bahan dasar rotan
Kalo jenis ini ada yang disebut Kalosara, yaitu Kalo yang difungsikan sebagai alat dalam upacara seperti :
Upacara dalam rangka perkawinan adat
upacara dalam rangka pelantikan raja atau pemimpin
upacara dalam hal menyambut tamu penting
upacara untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa
Alat bagi sejumlah tokoh untuk menyampaikan usul,saran pendapat kepada pejabat ataupun penguasa
alat untuk menyampaikan undangan penyelenggaraan pesta keluarga.
Untuk Kalosara jenis ini dalam penggunaan atupun pemanfaatannya dilengkapi dengan wadah anyaman yang bahannya diambil dari tangkai daun palem serta memakai kain putih
sebagai alas.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari emas yang biasa juga disebut Kalo eno-eno
Kalo jenis ini difungsikan sebagai alat dalam upacara sesaji
alat tebusan atas pelanggaran janji untuk melangsungkan upacara peminangan gadis dalam rangkaian perkawinan, sebagai salah satu dari mas kawin, serta dikenakan sebagai kalung perhiasan bagi mempelai wanita.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari besi
Jenis kalo yang dimaksud ini ini disebut dengan Kalo kalelawu
Kalo kalelawu digunakan atau difungsikan sebagai cincin pada hidung kerbau.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari perak disebut Kalo sambiala, Kalo bolosu, dan Kalo o langge
yaitu Kalo yang masing-masing digunakan sebagai bagian dari perhiasan
dada, Gelang tangan, Gelang kaki, yang biasa dikenakan baik bagi anak-anak maupun bagi remaja putri.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari benang atau yang biasa disebut Kalo kale-kale ¸ Digunakan sebagai alat pengikat pergelangan pada tangan dan kaki bayi
dan Kalo ula-ula yang digunakan sebagai alat menyampaikan kabar tentang adanya orang yang meninggal dunia.
Kalo dari bahan kain putih disebut Kalo lowani, yaitu Kalo yang dipakai di kepala sebagai tanda berduka cita atau berkabung
Kalo dari bahan kain biasa disebut Kalo usu usu , yaitu jenis Kalo yang difungsikan pada bagian kepala sebagai pengikat ataupun penutup kepala bagi orang orang tua.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari akar atau kulit kayu atau yang biasa disebut Kalo pebo, Kalo pebo adalah Kalo yang digunakan sebagai pengikat pada pinggang bagi orang dewasa
Kalo yang khusus terbuat dari akar bahar disebut Kalo kalepasi , adalah Kalo yang digunakan sebagai perhiasan untuk orang dewasa
Kalo dari akar hawa disebut juga Kalo parahi atau Kalo mbotiso , yaitu Kalo yang difungsikan sebagai pemberi tanda/patok atas kepemilikan tanah/lahan hutan yang akan diolah menjadi sebidang ladang pertanian maupun perkebunan.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari daun pandan disebut Kalo kalunggu , Kalo kalungu adalah Kalo yang dipakai sebagai pengikat kepala bagi gadis gadis remaja.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari bambu disebut Kalo kinalo , adalah Kalo yang difungsikan sebagai penjaga ladang/kebun serta tanam tanamanan yang ada di dalamnya.
Kalo yang bahan utamanya terbuat dari kulit kerbau ini disebut juga Kalo parado , adalah Kalo yang dimanfaatkan para pemburu sebagai jerat untuk menangkap kerbau kerbau
liar.
Makna Kalo (Makna Lingkaran) dari berbagai sudut pandang
Kalo adalah simbol bagi masyarakat suku Tolaki-Mekongga dalam memandang kehidupan. Kalo yang terbuat dari jalinan tiga rotan pilihan serta berwarna kuning mengandung berbagai Arti dan makna bagi Masyarakat suku Tolaki dan Mekongga.
1. Bentuk Lingkaran pada Kalo melambangkan kesatuan rohani serta jasmani dari unsur manusia seutuhnya
2. Jalinan rotan yang terdiri atas tiga jalur dengan satu simpul pada kedua ujung rotan melambangkan kesungguhan atau keharusan untuk bersatu antara Tuhan dan pemerintahan serta rakyat.
3. Adapun Kain berwarna putih yang keberadaannya ditempatkan sebagai bagin dari alas pertama dari simbol Kalo tersebut melambangkan hal yang terkait dengan kesucian, ketentraman, kesejahteraan serta lambang kemakmuran.
4. Talang persegi empat yang terbuat dari anyaman berbahan daun palem hutan sebagai alas dasar dari Kalo tersebut melambangkan unsur kesucian terhadap air dan sumber mata angin yang senantiasa memberi kehidupan serta kesegaranbagi rohani dan jasmani tiap tiap manusia.
Simbol Kalo itu bilamana diletakkan bersamaan dengan segenap kelengkapannya pada upacara adat (Kalo sara), selain sebagai syarat upacara hal ini juga menunjukkan cara
suku Tolaki menempatkan manusia serta alam semesta pada tatanan nilai nilai budaya, terkait norma-norma, sistem hukum serta segala aturan khusus yang berlaku.
Bagi suku Tolaki-Mekongga, Kalo merupakan simbol dari tiga komponen stratifikasi sosial.
1. Golongan bangsawan disimbolkan dengan lingkaran rotan
2. Golongan orang kebanyakan disimbolkan dengan kain putih
3. Golongan budak disimbolkan dengan wadah anyaman.
Lingkaran rotan yang berada pada posisi atas dari kain putih serta wadah anyaman memberi arti bahwa golongan bangsawan itu adalah pemerintah dan penguasa berkewajiban memberi perlindungan pada golongan orang kebanyakan serta golongan budak.
Kain putih yang letaknya berada pada posisi di bawah dari rotan yang berbentuk lingkaran dan posisinya berada di atas wadah memberi arti bahwa golongan orang kebanyakan/pemangku adat itu adalah pendukung golongan bangsawan dan menjadi pembela dari golongan budak/rakyat jelata.
Adapun wadah yang terbuat dari bahan anyaman serta berada di bawah posisi kain warna putih serta lingkaran rotan, memberi arti bahwa golongan budak maupun rakyat jelata menjadi bagian dari segenap pendukung golongan para pemangku adat serta pemuja golongan bangsawan.
Dalam keterkaitannya dengan kosmologi serta sistem keagamaan masyarakat Tolaki, Kalo mengandung tiga bagian , yaitu Kalo sebagai simbol dalam mengekspresikan bentuk dan tatanan alam semesta berikut isinya, baik yang ada di alam nyata maupun itu yang ada di alam gaib, serta bentuk tubuh manusia dan susunannya;
Symbol Kalo dalam proses upacara adat merujuk pada cara pandangan masyarakat Tolaki bahwa Kalo merupakan benda yang sacral
Bentuk lingkaran rotan menjadi simbol dunia atas
Kain putih menjadi simbol dunia bagian tengah
Wadah anyaman adalah simbol dunia bawah.
Tak sedikit masyarakat tolaki ada yang mengartikan bahwa
Rotan yang melingkar itu adalah simbol matahari, bulan dan bintang-bintang;
Mereka juga mengekspresikan bahwa lingkaran rotan adalah simbol SANGIA MBU‘U (Dewa tertinggi yakni Allah Taala)
SANGIA I LOSOANO OLEO (Dewa yang ada di bagian Timur) dan SANGIA I TEPULIANO WANUA (Dewa penguasa kehidupan yang ada di bumi)
Sedangkan wadah yang terbuat dari anyaman merupakan simbol SANGIA I PURI WUTA (Dewa yang berkuasa di dasar bumi)
Kalo juga disebut sebagai simbol dari manusia.
Dimana Lingkaran rotan adalah gambaran dari kepala manusia, kain putih adalah simbol dari bagian tubuh dan adapun wadah anyaman di simbolkan sebagai bagian tangan
dan kaki.
Dalam berbagai upacara adat di tengah masyarakat tolaki, Kalo adalah bagian terpenting. Tanpa adanya Kalo, maka suatu upacara tidak dapat dilangsungkan, hal ini dikarenakan
Kalo menjadi inti dari upacara.
Kalo dalam hal ini mengekspresikan unsur utama upacara yang sifatnya adalah timbal balik serta dapat menggambarkan maksud juga tujuan dari proses sebuah upacara.
Bentuk lingkarannya adalah lambang persatuan dan kesatuan,
Kain putih di lambangkan sebagai kesucian serta ketentraman
Wadah anyamannya yang terbuat dari tangkai daun palem sebagai lambang kemakmuran juga kesejahteraan.
Bagi Masyarakat Tolaki, Kalo merupakan benda sakral yang merupakan representasi dari leluhur mereka.
Bagi Masyarakat Tolaki menghargai, mensucikan dan mengkeramatkan Kalo, berarti mentaati ajaran leluhur.
Hal itu berarti juga dapat membawa keberkahan di kehidupan mereka. Adapun sebaliknya, Jika tidak dapat menghargai serta mensucikan Kalo berarti tidak menghargai ajaran leluhur, kualat, serta kedurhakaan.
Kesimpulan terakhir
Suku adat dan Kebudayaan Nusantara itu sangat beragam, dan keberadaannya menyebar diseluruh daerah di Indonesia. Keunikan budaya masing-masing antara satu daerah
dengan daerah lainnya itu banyak yang berbeda
Demikian juga dengan yang ada di Sulawesi Tenggara dimana suku Tolaki berada.
simbol kalo dalam tradisi inilah yang menjadi pemersatu serta sumber hukum didalam adat isti adatnya.
Sungguh sangat sarat dengan pesan serta maknanya Hal inilah yang perlu untuk terus dilestarikan oleh generasi muda pewaris bangsa, sebagai bagian dari jati diri suku
bangsa yang berbudaya.

KALOSARA

Secara harfiah, kalosara terdiri atas dua kata, yaitu: kalo berarti seutas rotan dengan tiga lilitan yang melingkar; dan sara berarti adat, ...