Selasa, 09 Maret 2021

Lembaga Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara (ANOA SULTRA) melaksanakan kegiatan "Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus)" yang Ke-III Tahun 2021.

Lembaga Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara (ANOA SULTRA) melaksanakan kegiatan "Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus)" yang Ke-III Tahun 2021.

Kegiatan Diklatsus III Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara di Laika Mbu'u Kec. Meluhu, Kab. Konawe dengan tema "Membentuk Kader Militan, Beradab dan Beradat serta Menjunjung Tinggi Rasa Mepoko'aso"
selama 2 hari, Alhamdulillah berjalan dengan sukses.

Sebelum pelaksanaan Diklatsus III, Panitia terlebih dahulu mengadakan kegiatan Pra Diklatsus yang berlangsung selama 3 hari berturut-turut di Sekretariat DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara, Kec. Bondoala, Kab. Konawe. Pra Diklatsus dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang organisasi pada umumnya. "Mengapa Pra Diklatsus sangat penting untuk calon anggota, sebab perlu diketahui bersama bahwa pelaksanaan Diklatsus III di Meluhu itu sangat singkat waktunya, apalagi mengingat calon anggota Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara yang akan mengikuti kegiatan Diklatsus kebanyakan adalah Karyawan Perusahaan Mega Industri di Morosi olehnya itu perlu mempertimbangkan ketersediaan waktu dari masing-masing calon anggota. Selain itu dalam kegiatan Pra Diklatsus selain materi dasar tentang organisasi, juga diadakan ujian mental dan fisik serta calon anggota diberi gambaran tentang jenis kegiatan yang akan diikuti pada Diklatsus di Meluhu nantinya. (Ucap: Sekretaris Jenderal Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara yang akrab dipanggil FAYYADH)".

Kegiatan Diklatsus III berlangsung selama 2 hari. Dimulai Kamis, 04 s.d Jum'at, 05 Maret 2021. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Diklatsus III (Rustam Mugas Latunggala, S.Pd), Wakil Ketua Panitia (David) dan Sekretaris Panitia (Usman), bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegiatan adalah 103 Orang yang dibagi dalam 5 Regu. Regu 1, 2 dan 3 masing-masing berjumlah 20 Orang, sedangkan Regu 4 berjumlah 22 Orang dan Regu 5 berjumlah 21 Orang.

Satu ciri khas dari pelaksanaan Diklatsus III yaitu adanya Peserta Ayah dan Anak dalam 1 Angkatan (a.n Salam dan Wawan Dermawan) dari Kec. Bondoala, juga adanya peserta Tunawicara/Orang Bisu (a.n Aidi) dari Kec. Morosi. Ini membuktikan bahwa untuk Mepoko'aso (bersatu) dalam menjaga harkat dan martabat serta melestarikan adat dan budaya suku tolaki tidak mengenal tingkatan usia, pangkat ataupun golongan maupun fisik dari seseorang. 

Rustam (Sapaan Akrab) selaku Ketua Panitia dan mewakili seluruh panitia saat penutupan kegiatan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat segala kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan Diklatsus III dan juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kerja sama seluruh panitia dan peserta termasuk saran dan masukan yang sangat berharga dari Dewan Sara, Dewan Pendiri dan Petinggi DPP Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara dalam mensukseskan pelaksanaan kegiatan Diklatsus III dari sejak pembukaan sampai berakhirnya kegiatan.

"Inae Kona Sara Ie Pinesara, Inae Lia Sara Ie Pinekasara"
#Salamu_Aso_Mbewowo'a
#Salamu_Aso_Beli
#Salamu_Aso_Mbenao
#Salamu_Mepoko'aso


Rumbia, 08 Maret 2021
Sekjend. Ana Ndolaki Mepoko'aso Sulawesi Tenggara
Fayyadh '27

Minggu, 07 Maret 2021

TAMALAKI, SIAPAKAH PEMILIKMU ?

Secara Etimologi dapat diartikan sebagai berikut yaitu terdiri dari dua suku kata ‘TAMA’ dan ‘LAKI’. TAMA dalam kosa kata bahasa Tolaki artinya adalah Lelaki, Jantan, Perkasa, Kuat, Tangguh, sedangkan kata LAKI dapat diartikan sebagai seorang pemberani. Jadi Tamalaki adalah Seorang Laki – laki yang sangat tangguh dan dapat diandalkan dengan keberanian yang dimilikinya untuk melindungi segenap suku bangsa Tolaki. (04/03/2021)

Secara Terminologi kata TAMALAKI adalah seorang Ksatria dari suku Tolaki yang berfungsi sebagai Pasukan Kerajaan dan Hulubalang perang kerajaan Tolaki.
Jadi istilah ‘Tamalaki’ adalah istilah yang berlaku umum bagi kaum adam dari kalangan masyarakat Tolaki yang siap mengabdikan dirinya kepada kerajaan sekaligus bersedia menjalankan perintah pemimpinnya untuk menjadi Benteng hidup dan alat (pondondo wonua) dalam bertahan maupun menyerang musuh kerajaan.

Tolaki sendiri adalah salah satu suku bangsa terbesar yang mendiami jazirah sulawesi tenggara dimana pada masa lalu pernah memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Mekongga dan Konawe’
Dalam Tatanan masyarakat Tolaki.

Tamalaki adalah salah satu kasta Ksatria yang memiliki keistimewaan tersendiri dimana seseorang yang bergelar Tamalaki memiliki tanggungjawab besar dipundaknya. Gelar Tamalaki dalam sejarahnya akan diberikan pada seorang laki – laki dewasa apabila telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan teruji ketika diterjunkan kedalam arena peperangan. Bila ditinjau dari aspek Historis, Tamalaki adalah gelar yang diberikan kepada seorang laki – laki dewasa apabila di medan perang mampu membunuh musuhnya serta memenggal kepalanya (monga’e) lalu menjadikan tengkorak musuhnya sebagai wadah untuk meminum air. Hal ini sekaligus menjadi penanda bagi seorang bisa dikatakan telah Dewasa dan sempurna sebagai seorang ksatria apabila telah mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan. Tamalaki adalah simbol kekokohan Kerajaan Tolaki dalam mempertahankan eksistensi kerajaan serta menegakkan kedaulatan orang Tolaki.

Secara Filosofis, Tamalaki, sebagai pasukan yang umumnya terdiri dari para lelaki dewasa merupakan simbol yang bermaka kejantanan (Polanggaia), keperwiraan (Kapita), keberanian (moseka), kesetiaan/loyalitas tanpa batas dan penjaga marwah kerajaan/kemokolean Konawe dan Kebokeoan Mekongga. Hal ini dapat dilihat dari beberapa simbol yang digunakan, seperti ikat kepala warna merah (Kasaeda) dan dilengkapi dengan senjata, taawu. Dari sisi ideologis, Tamalaki merupakan suatu gelar yang istimewa dalam mengabdikan dirinya secara totalitas terhadap pemimpinnya serta mampu melindungi adat yang disimbolkan dengan ‘KALO SARA’.

Dalam Jiwa para Tamalaki selalu memegang Prinsip sesuai semboyannya “Labirai mate ano amba metuka bunggu”. Jika diterjemahkan bermakna “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus mundur walau hanya sejengkal”.

“Sepak Terjang Tamalaki”

Selain sebagai gelar umum bagi setiap laki – laki dalam suku Tolaki, seorang Tamalaki juga bisa mendapatkan gelar gelar istimewa lainnya yang tentu saja menggambarkan level ke-Tamalakiannya yang tinggi. Di Konawe, adalah seorang ‘Wutu’ahu’ atau yang di gelar dengan “Anakia Ndamalaki” (era Kemokolean Wekoila) yang sangat tersohor dimasanya sebagai panglima perang kerajaan Konawe yang pertama – tama menjadi cikal bakal penamaan gelar Tamalaki di tubuh masyarakat Tolaki (Adjemain Soroambo, M.Sos).

Anakia Ndamalaki juga mendapat julukan lain yaitu ‘Pakandeate’ atau Pakandre ati’ dimana gelar tersebut diberikan oleh bangsawan ditanah bugis atas kemampuannya dimedan perang ketika menghabisi musuhnya dengan cara memakan organ tubuh berupa Hati.

Makam Anakia Ndamalaki saat ini telah menjadi salah satu situs sejarah di konawe, hal ini ditandai dengan dijadikannya sebagai Cagar Budaya Nasional makam Pakande’ate yang terletak di Lerehoma Kabupaten Konawe. Di Mekongga, adalah seorang raja Mekongga yang bergelar “Sangia Nibandera” dikisahkan pernah memimpin pasukan Tamalaki terbaiknya dari Mekongga untuk membantu kedatuan Luwu mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari serangan musuh yang ingin menaklukan kedatuan Luwu sekitar abad ke 17 (Nur Saenab Lowa).

Makam Sangia Nibandera pun saat ini telah masuk kedalam cagar budaya nasional.
Berbagai Kisah para Tamalaki Wonua terus berlanjut sejak dulu hingga di era moderen kini, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pemuda – pemuda Tolaki yang saat ini tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) mencoba bangkit dari tidur panjangnya dengan kesadaran penuh untuk menjaga eksistensi adat dan budaya Tolaki.

“Ritual Tamalaki”

Dalam Melakukan eksvansi para Tamalaki sebelum turun ke medan perang akan terlebih dahulu melakukan berbagai persiapan, tak terkecuali dengan sejumlah ritual sakral yang menjadi kegiatan Wajib para pasukan Tamalaki. Pasukan Tamalaki akan memilih waktu yang paling tepat dalam melepaskan pasukan menuju wilayah yang akan dijadikan arena perang. Dalam keyakinan Tamalaki, waktu yang tepat adalah angka Satu, sembilan, tujuh belas dan dua puluh lima atau biasa disimbolkan dengan ‘Matahari’ (Prof. A. Tarimana) Diantara ritual itu adalah melakukan Tarian ‘Umo’ara’ sebagai pengantar para pasukan Tamalaki saat hendak menuju medan perang.

Selanjutnya pasukan Tamalaki ini akan dipimpin oleh seorang panglima yang bergelar ‘Tadu’. Seorang Tadu bersama kelompok kecilnya yang terpisah dari pasukan utama akan memandu para Tamalaki dari suatu tempat dengan cara menyalakan obor yang terbuat dari kayu damar sambil melafalkan sejumlah mantra guna melundungi para Tamalaki yang sedang berperang (Albert C Kruyf).

Tamalaki sendiri memiliki keyakinan yang tinggi terhadap “Sangia Mbonga’e atau dewa perang yang diyakini selalu siap melindungi mereka di medan perang, sehingga dengan moral dan semangat tinggi mereka maju ke medan perang.

Tamalaki sebagai Pasukan penjaga adat.
Selain dari fungsinya sebagai Hulubalang Perang kerajaan, Tamalaki juga berfungsi dalam menjaga seluruh aturan adat dan aturan sosial lainnya yang berlaku dalam internal masyarakat Tolaki. Tamalaki juga memiliki tugas yang tidak kalah beratnya dalam menjaga sejumlah aturan Adat yang telah menjadi aturan baku yang berlaku pada masyarakat agar tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan kata lain Tamalaki diberi tugas oleh Kerajaan untuk terlibat aktif mengontrol jalannya pemerintahan demi tegaknya nilai – nilai “Kalo Sara” dari berbagai upaya pembangkangan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Senjata KhasTamalaki”

Orang – orang Luwu pernah menggambarkan keberanian para Tamalaki di Mekongga dengan ungkapan.”Sessana Bombang Tawana Sinangke” yang artinya adalah Sisanya Ombak dilautan maka bagiannya adalah parang sinagke / Taawu. Dalam bahasa tolaki yaitu “Toreano Laewo Tadono Taawu”.

Adapun beberapa senjata Khas Tamalaki serta perlengkapannya berupa parang (Taawu), Tombak (Karada), Tameng (Kiniya) dan lainnya. Senjata – senjata yang disebutkan diatas dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang diambil dari sekitar danau matana lalu ditempa oleh pengrajin besi (Mbusopu) dari Sanggona.

Pegunungan Verbeek terletak di wilayah Sulawesi Tenggara, Selatan dan Tengah yang pernah aktif ribuan tahun lalu. Setelah eruvsi maka verbeek mengeluarkan isi perutnya yang menyebar ke Mekongga dan Konawe. Kandungan material yang terdiri dari biji besi yang kaya dan berkualitas nikel dan baja inilah yang kemudian menjadi bahan baku pembuatan senjata Tamalaki (AN Lapae).

Seiring dengan masuknya Islam di bumi Anoa Sulawesi Tenggara beberapa abad silam, maka tradisi – tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam mulai ditinggalkan oleh orang Tolaki secara perlahan hingga akhirnya tidak lagi ditemukan kebiasaan memenggal kepala tersebut.

Kiprah Tamalaki dari masa ke masa terus mewarnai perjalanan suku bangsa Tolaki sebagai suatu entitas. Tamalaki selalu mengambil peran penting dalam melindungi suku bangsa Tolaki dari berbagai pihak yang ingin merongrong kedaulatan Tolaki. Di era perlawanan penjajah asing hingga menjelang kemerdekaan NKRI, para Tamalaki melakukan perlawanan dalam mengusir penjajah dari Nusantara. Baik di Mekongga maupun di Konawe, para Tamalaki tampil kedepan menjadi benteng bagi masyarakat Tolaki. Salah satunya adalah kisah heroik para Tamalaki bersama rakyat dalam menghadang konvoi NICA BELANDA pada bulan November 1945 di Kolaka.

Demikian halnya ketika negara ini baru saja merdeka, ketika terjadi pemberontakan DI/TII di bumi Anoa maka para Tamalaki pulalah dalam hal ini “Pasukan Djihad Konawe” (PDK) yang menjadi tameng bagi masyarakat Tolaki untuk melawan penindasan yang dilakukan para gerombolan kala itu. Saat ini ita dapat melihat banyaknya organisasi kepemudaan Tolaki yang muncul dengan konsep menjaga penegakan hukum adat di tanah leluhurnya. Salah satunya adalah “Banderano Tolaki” yang cukup aktif dalam menjaga dan mengawal penegakan hukum adat di wilayah hukum adat Tolaki.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin menyampaikan beberapa hal terkait penggunaan istilah ‘Tamalaki’ yang belakangan ini diduga terjadi distorsi pemahaman sesama pemuda Tolaki sehingga berujung saling klaim tentang siapa yang paling berhak menggunakan istilah TAMALAKI yaitu :

Bahwa ‘Tamalaki’ adalah istilah universal yang boleh digunakan oleh siapa saja pemuda Tolaki yang memiliki semangat dalam menjaga dan melestarikan nilai nilai “Kalo Sara”.
Istilah Tamalaki tidak boleh diklaim sebagai milik seseorang atau satu kelompok Tolaki saja karena dalam sejarahnya istilah ini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan pernah digunakan di dua kerajaan besar milik suku Tolaki.
Tamalaki adalah gelar bagi para kesatria Tolaki dimasa lalu yang selalu memegang teguh falsafah “Kalo Sara”.
Tamalaki merupakan benteng kokoh bagi suku bangsa Tolaki yang selalu berdiri terdepan dalam membela hak – hak orang Tolaki
Karena keistimewaannya maka hendaknya siapa saja yang menggunakannya agar bisa menjaga sikap dan perilakunya sebagai seorang ksatria sejati.
Sebagai warisan Leluhur Tolaki dalam konteks kearifan lokal (local wisdom) maka Tamalaki telah bersemayam dalam jiwa para pemuda Tolaki saat ini dalam upayanya menjaga dan melindungi Adat dan Kebudayaan Tolaki.
Semoga dengan hadirnya Tulisan ini dapat mengedukasi segenerasi Tolaki mengenai ‘TAMALAKI’.

Salamu Mepokoaso
“inae Kona sara iee pinesara, inae lia sara iee pinekasara”.

Sabtu, 06 Maret 2021

Sejarah singkat P.D.K (Pasukan Djiehad Konawe)

Sejarah singkat P.D.K (Pasukan Djiehad Konawe)

P.D.K (Pasukan Djihad Konawe)

Sekitar tahun 1950 atau awal tahun 1951 gejolak kekacauan di sulawesi tenggara sudah mulai tampak, bermula di kolaka, kahar muzakar dengan pasukannya memsuki sulawesi tenggara dan menguasai wilayah kendari terus ke arah selatan di sekitar boepinang yang di ikuti perampokan,penculikan dan pembunuhan mewarnai masa itu.

Sejalan dengan meningkatnya aktivitas gerilyawan DI/TII di sulawesi tenggara, maka kewedanan kendari di tempatkan satu batalyon infantri secara berturut-turut adalah batalyon 704 Ko DPSST, kemudian batalyon 512 dari brawijaya, batalyon 718 Ko DPSST, selanjutnya batalyon 718 di tarik dan di ganti mobrig dari jawa timur (rivai nur, 1999: 90)
kehadiran batalyon 704 sebagai perintis operasi militer di kewedanan kendari tdk sprti yang di harapkan sebagai pelindung rakyat, sebaliknya kehadiran batalyon 704 di kendari rakyat mengalami penyiksaan, gadis gadis di ambil secara paksa. Tindakan yang sama di lanjutkan oleh pasukan batalyon 512 brawijaya dan kejahatan itu trus berlangsung hingga datangnya batalyon 718.

Hadirnya batalyon 718 di wilayah kendari menggantikan batalyon 512, rakyat menyambut dengan gembira, mereka menaruh harapan perlindungan dari gangguan dan teror DI/TII pada batalyon ini. Awal mula kehadiran batalyon 718 rakyat dengan sukarela membantu keperluan dan tugas mereka, dalam beberapa hal seperti kebutuhan pangan, rakyat dengan sukarela membantu membrikan kebutuhan-kebutuhan itu, bahkan anggota porsonil batalyon 718 sering di undang oleh penduduk untuk di jamu makanan dan di suguhkan minuman. Pendirian pos pos penjagaan rakyat dengan sukarela datang membantu.

Kerjasama antara tentara dan rakyat hanya berlangsung pada masa awal kedatangan mereka, namun karena tingkah laku para anggota batalyon yang kian hari smakin buruk mengakibatkan rakyat tidak mau lagi untuk bekerjasama dengan tentara, bahkan rakyat menjadi menutup diri. Harapan rakyat untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan dari batalyon ini tdk terpenuhi, bahkan penderitaan yg selama ini mereka rasakan akibat dari tekanan gangguan DI/TII menjadi lebih parah. Akibatx, brdampak pada kehidupan rakyat, DI/TII menjadi semakin gencar melakukan teror, perampokan, penculikan dan pembunuhan, sebagai jawaban dan bentuk perlawanan mereka atas pengiriman pasukan operasi untuk menumpas habis gerilyawan di sulawesi tenggara.

Kerusakan struktur pertanian atau perkebunan rakyat akibat pembakaran dan pengrusakan oleh DI/TII di tambah lagi pemerasan dan perampasan harta milik rakyat merupakn salah satu sebab utama timbulnya kemiskinan dan kelaparan di wilayah kendari terutama di desa-desa. Tingginya tingkat intensitas perampokan, pemerkosaan dan perampasan ternak yang sering terjadi di wilayah kendari mengakibatkan lumpuhnya sistem pemerintahan, yang ada hanya ketakutan di kalangan rakyat. Di wilayah kendari bagian selatan seperti lambuya, motaha, tinanggea, landono pada masa itu prnah di landa kelaparan total akibat perampasan dan perampokan oleh DI/TII di tambah batalyon 718, sehingga orang makan apa saja yang bisa di makan, tidak hanya itu struktur sosial budaya juga menjadi porak poranda, adat istiadat daerah kendari tidak di hormati lagi bahkan tidak di hiraukan lagi keberadaannya (lambauta, wawancara 12 april 2001).
Dampak dari kekejaman tindakan batalyon 718 sudah mulai di rasakan sejak tahun 1955 dngn mulai beraninya rakyat melawan demi keluarga dan hartanya yang hal demikian oleh batalyon 718 di tafsirkan sebagai perlawanan. Kendati pun berbagai prlawanan individu sering kali terjadi sebagai protes tindakan-tindakan batalyon 718, akan tetapi tidak menyurutkan aktivitas mereka. Perampasan milik rakyat di barengi tindakan kekerasan malah terus meningkat.

Pada tahun 1953, Alim Taufik berangkat ke kendari setelah bergerilya dengan pasukan hasan basri di kalimantan barat balikpapan karena mendengar berita bahwa di sulawesi tenggara khususnya kendari rakyat mengalami penyiksaan. Setelah Alim Taufik kembali, ia menyaksikan sendiri kebenaran berita itu. Alim Taufik juga merasakan ketidak adilan, terutama pada orang orang tolaki sebagai penduduk asli pribumi.

Untuk melawan ketidak adilan dan tindakan semena-mena, Alim Taufik menghubungi tokoh tokoh bangswan dan pemuda antara lain, Lambauta dari tokoh pemuda, Abdul Sama dari tokoh bangsawan, dan Nurdin Rasiddin dari tokoh pemuda. Mereka bertemu di bekas gedung Zeending School (bioskop lama kota).
Pada bulan maret 1955, mereka membahas tentang keadaan dan situasi kendari yang semakin kacau. Idrus Taufik kemudian mengusulkan membntuk suatu organisasi kelasyakaran untuk melawan ketidak adilan dan tindakan semena-mena yang menimpa rakyat. Usulan ini di terima oleh ke empat tokoh tersebut. Dalam pertemuan penting ini mereka sepakat mengundang tokoh tokoh lainnya yang berada di distrik-distrik pada wilayah kewedanan kendari dalam rangka musyawarah pembentukan organisasi dengan tempat di distrik konda pada tanggal 5 mei 1955.
Hasilnya hadir beberapa tokoh-tokoh yang diundang, antara lain:

1. Idrus taufik
2. MR. Pabelu
3. Mandaha/H. Umar (kepala distrik laeja) mewakili klompok tua
4. Tambi achmad zulkarnaen (mewakili pemuda lasolo)
5. Kasim jufri (mewakili pemuda lambuya)
6. Lambauta dari tokoh pemuda konda
7. Samsuddin dari tokoh pemuda kolaka
8. Sikala pidani dari bangsawan
9. Nurdin rosyidin dari pemuda
10. Abdul husain tamburaka
11. Toka arifin dari pegawai negeri (guru)
12. Hamid hasan

dalam pertemuan ini di sepakati membentuk kelasyakaran tetapi mereka kemudian terbentuk pada penamaan organisasi itu. Idrus Taufik tampil mengusulkan nama organisasi itu adalah "Pasukan Djihad Konawe" di singkat PDK dengan menjelaskan arti dan maksud dari pemberian nama PDK yang terdiri dari 3 suku kata, "Pasukan,Djihad,Konawe".

Pertama, ia memilih suku kata "Pasukan" dengan maksud bahwa pasukan adalah organisasi yang dapat memberi dorongan moril tinggi pada setiap personilnya, dan sifat organisasi ini bergerak, menyerupai tentara yaitu bergerak mengadakan perlawanan fisik.
Kedua, ia memlih suku kata "Djihad" dengan mksud bahwa kata djihad adalah berarti berjuang untuk menegakkan kebenaran, dan mencegah kemungkaran, di dalamnya ada kewajiban dan motivasi mati syahid, ini di ilhami dari ceramah-ceramah agama yang di dengarnya semasa masih di makassar..
Ketiga, ia memlih suku kata "Konawe" dengan alasan konawe adalah nama Kerajaan Tolaki yang pernah berjaya sehingga nama konawe memiliki pengaruh sosial yakni pemersatu orang Tolaki dan persaudaraan serta persamaan, yakni dengan luwu, makassar, bone, ternate dan bungku.

Setelah Alim Taufik mengemukakan nama organisasi ini dengan di sertai alasan-alasan maka ke dua belas anggota menyetujui nama organisasi ini yaitu "Pasukan Djihad Konawe". Selanjutnya ke 12 tokoh ini di tambah Alim Taufik mengikrarkan janji untuk bersatu padu dalam melawan keserakahan,ketidak adilan dan kekuasaan..

#Sejarah_Tolaki
#Sumber_Cerita_Anandolaki

KALOSARA

Secara harfiah, kalosara terdiri atas dua kata, yaitu: kalo berarti seutas rotan dengan tiga lilitan yang melingkar; dan sara berarti adat, ...